Setiap serangan siber selalu dimulai jauh sebelum malware dijalankan.
Apa pun jenis serangannya, selalu ada pihak yang menentukan target, menyusun strategi, dan memilih cara terbaik untuk menembus pertahanan.
Firewall, antivirus, maupun teknologi keamanan lainnya memang berperan penting dalam mendeteksi dan menghentikan berbagai ancaman. Namun, teknologi saja tidak selalu mampu memberikan konteks mengenai siapa yang berada di balik sebuah serangan dan apa tujuan mereka.
Perspektif inilah yang mengubah cara organisasi memandang keamanan siber. Memahami ancaman tidak lagi cukup hanya dengan mengenali malware, celah keamanan, atau teknik serangan yang digunakan. Organisasi juga perlu memahami siapa pelaku di baliknya, bagaimana mereka beroperasi, dan apa motivasi yang mendorong setiap aksinya.
Dalam lanskap cybersecurity, individu, kelompok, atau organisasi yang berada di balik aktivitas tersebut dikenal sebagai threat actor. Setiap cyber threat actor memiliki motivasi, kemampuan, dan pola operasi yang berbeda, sehingga pendekatan pertahanan tidak dapat dibuat dengan satu cara untuk semua ancaman. Semakin baik organisasi memahami karakteristik aktor serangan, semakin tepat dan efektif strategi yang dapat dibangun untuk menangkal ancamannya.
Threat Actor: Pelaku di Balik Serangan Siber
Threat actor adalah individu, kelompok, atau organisasi yang melakukan aktivitas berbahaya terhadap sistem, jaringan, atau data dengan tujuan tertentu. Istilah ini digunakan dalam cybersecurity untuk menggambarkan pihak yang berada di balik sebuah ancaman, mulai dari pelaku kejahatan finansial hingga aktor yang menjalankan operasi siber berskala besar.
Tidak semua hacker dapat disebut sebagai threat actor. Istilah hacker lebih menggambarkan seseorang yang memiliki kemampuan teknis untuk memahami atau memodifikasi sistem, sementara threat actor merujuk pada pihak yang menggunakan kemampuan tersebut untuk melakukan aktivitas yang mengancam keamanan.
Dua serangan dengan teknik yang sama belum tentu berasal dari threat actor yang sama. Kelompok ransomware dapat mengejar keuntungan finansial, sementara kelompok lain mungkin memiliki tujuan spionase atau pengaruh politik.
Mengapa Organisasi Perlu Memahami Threat Actor?
Tujuan memahami threat actor bukan berarti harus mengenal identitas pelaku, tapi membantu memetakan organisasi dalam melihat ancaman secara lebih utuh, mulai dari motivasi pelaku, target yang diincar, hingga metode yang kemungkinan digunakan dalam sebuah serangan.
Memahami threat actor berarti membantu organisasi untuk:
-
- Memahami Motivasi dan Pola Operasi Pelaku
Setiap threat actor memiliki tujuan dan pola operasi yang berbeda. Sebagian pelaku memanfaatkan serangan seperti ransomware untuk memperoleh keuntungan finansial, sementara kelompok lain dapat menjalankan operasi pencurian informasi atau spionase dengan tujuan tertentu.
Dengan memahami karakteristik tersebut, organisasi dapat memperkirakan risiko yang lebih relevan dan menentukan strategi pertahanan yang sesuai. Pendekatan ini menjadi salah satu dasar dalam threat intelligence, yaitu proses mengumpulkan dan menganalisis informasi mengenai ancaman untuk membantu organisasi mengambil keputusan keamanan yang lebih tepat.
- Memahami Motivasi dan Pola Operasi Pelaku
-
- Membangun Pertahanan yang Lebih Proaktif
Threat actor umumnya memiliki pola serangan yang dapat dipelajari, mulai dari cara memperoleh akses awal, teknik yang digunakan, hingga metode mempertahankan keberadaan di dalam sistem. Informasi mengenai pola tersebut membantu tim keamanan memahami attack vector yang mungkin digunakan dan mempersiapkan respons sebelum serangan berkembang menjadi insiden yang lebih besar.
Dengan memahami siapa yang menjadi lawan, organisasi tidak hanya berfokus pada bagaimana menghentikan serangan yang sudah terjadi, tetapi juga bagaimana mengantisipasi ancaman berikutnya dengan membangun pertahanan yang lebih proaktif.
- Membangun Pertahanan yang Lebih Proaktif
Baca juga: Post-Quantum Cryptography: Ancaman Baru yang Bisa Membobol Enkripsi di Masa Depan
Jenis-Jenis Threat Actor yang Perlu Diwaspadai

Seperti yang dijelaskan sebelumnya, threat actor memiliki karakteristik yang berbeda berdasarkan motivasi, kemampuan, dan tujuan serangan.Perbedaan tersebut menunjukan bahwa strategi keamanan siber tidak dapat dibangun dengan pendekatan yang seragam.
Beberapa jenis threat actor yang umum ditemukan dalam lanskap ancaman siber modern, antara lain:
-
- Cybercriminal
Cybercriminal adalah pelaku yang melakukan serangan siber dengan tujuan utama memperoleh keuntungan finansial. Mereka sering memanfaatkan metode seperti phishing attack, pencurian kredensial, dan penyebaran ransomware untuk mendapatkan akses atau memeras organisasi.
- Cybercriminal
-
- Nation-State Actor
Nation-state actor merupakan kelompok yang menjalankan operasi siber dengan dukungan atau kepentingan suatu negara. Berbeda dengan cybercriminal yang berorientasi finansial, kelompok ini biasanya memiliki tujuan strategis seperti pengumpulan informasi intelijen, pengaruh geopolitik, atau cyber espionage.
Serangan yang dilakukan sering dikategorikan sebagai advanced persistent threat (APT) karena memiliki perencanaan matang, kemampuan tinggi, dan dapat mempertahankan akses dalam sistem target untuk waktu yang panjang.
- Nation-State Actor
-
- Insider Threat
Insider threat merupakan ancaman yang berasal dari individu yang memiliki akses terhadap sistem atau informasi internal organisasi, seperti karyawan, kontraktor, maupun pihak ketiga.
Ancaman ini dapat terjadi secara sengaja, misalnya penyalahgunaan akses untuk mencuri data, maupun tidak sengaja akibat kelalaian pengguna yang membuka peluang terjadinya serangan.
- Insider Threat
-
- Hacktivist
Hacktivist adalah pelaku yang melakukan serangan siber dengan motivasi ideologi, politik, atau sosial tertentu. Tujuan mereka biasanya bukan hanya mendapatkan keuntungan finansial, tetapi menyampaikan pesan atau memberikan tekanan terhadap target. Aktivitasnya bisa berupa gangguan layanan, perubahan tampilan website (defacement), maupun publikasi informasi tertentu.
- Hacktivist
Setiap cyber threat actor memiliki motivasi, kemampuan, dan pola operasi yang berbeda. Tidak ada organisasi yang seratus persen aman dari ancaman, tetapi tidak semua menghadapi ancaman yang sama.
Baca juga: Transformasi Hacktivis dari Aksi Simbolik ke Kejahatan Siber Terorganisir
Cara Threat Actor Menembus Pertahanan Siber
Sebelum mencapai tujuan akhirnya, threat actor biasanya melalui beberapa tahapan untuk memahami target, mendapatkan akses, memperluas kendali, hingga menjalankan aksi yang menjadi tujuan mereka, di antaranya:
-
- Pengintaian (Reconnaissance)
Tahap awal dimulai dengan pengumpulan informasi mengenai target. Threat actor mencari data terkait organisasi, infrastruktur digital, layanan yang terbuka, maupun informasi pengguna untuk memahami potensi kelemahan dan menentukan attack vector yang paling memungkinkan.
- Penyusupan (Initial Access)
Setelah menemukan peluang, threat actor berupaya memperoleh akses awal ke sistem organisasi. Metode yang sering digunakan meliputi phishing attack, pencurian kredensial, maupun eksploitasi kerentanan pada sistem yang belum diperbarui atau memiliki konfigurasi yang tidak tepat.
- Deployment Tools dan Malware
Setelah berhasil masuk, sebagian threat actor dapat memasang malware untuk mempertahankan akses, mencuri informasi, atau menjalankan aktivitas berbahaya lainnya. Namun, malware hanyalah salah satu alat yang digunakan, karena metode serangan dapat berbeda tergantung tujuan dan kemampuan pelaku.
- Lateral Movement
Setelah mendapatkan akses awal, threat actor dapat bergerak di dalam jaringan untuk mencari sistem atau data yang lebih bernilai. Tahap ini memungkinkan pelaku memperluas kendali, meningkatkan hak akses, dan mempersiapkan serangan dengan dampak yang lebih besar.
- Action on Objectives
Pada tahap akhir, threat actor menjalankan tujuan utama mereka berdasarkan motivasi awal, seperti pencurian data, penyebaran ransomware, gangguan operasional, atau aktivitas cyber espionage. Semakin lama aktivitas mereka tidak terdeteksi, semakin besar potensi dampak yang dapat ditimbulkan terhadap organisasi.
- Pengintaian (Reconnaissance)
Memahami tahapan serangan ini membantu organisasi melihat bahwa sebuah cyberattack bukanlah kejadian yang berdiri sendiri, melainkan rangkaian aktivitas yang dapat dideteksi dan diantisipasi. Organisasi dapat membangun strategi keamanan yang lebih proaktif untuk mengurangi risiko sebelum dampaknya meluas.
Bagaimana Cara Organisasi Menghadapi Ancaman dari Threat Actor?
Dengan menganalisis aktivitas, indikator ancaman, dan metode serangan yang ditemukan, organisasi dapat memperoleh gambaran yang lebih jelas mengenai pola yang mungkin berada di balik sebuah serangan. Kemampuan tersebut bisa dibangun melalui kombinasi antara threat intelligence, monitoring, detection and response, serta sinergi antara people, process, dan technology.
-
- Memanfaatkan Threat Intelligence untuk Memahami Karakteristik Ancaman
Threat intelligence membantu organisasi mengumpulkan dan menganalisis informasi mengenai ancaman untuk memahami bagaimana threat actor beroperasi. Informasi seperti teknik serangan, infrastruktur yang digunakan, pola aktivitas, hingga indikator ancaman dapat membantu menghubungkan sebuah insiden dengan karakteristik kelompok atau tipe pelaku tertentu.
Dengan pemahaman tersebut, organisasi mulai memahami siapa yang mungkin berada di balik aktivitas tersebut dan mengapa mereka melakukannya. Hal ini memungkinkan tim keamanan mengambil keputusan berdasarkan konteks ancaman yang lebih lengkap.
- Memanfaatkan Threat Intelligence untuk Memahami Karakteristik Ancaman
-
- Memperkuat Monitoring, Detection, dan Response
Threat actor dapat mengubah metode serangan untuk menghindari sistem pertahanan. Karena itu, organisasi membutuhkan kemampuan monitoring berkelanjutan untuk mengidentifikasi aktivitas yang tidak biasa, mendeteksi indikasi kompromi, dan melakukan investigasi lebih awal.
Kemampuan detection and response membantu organisasi memahami pola aktivitas mencurigakan, membatasi dampak serangan, serta mengambil tindakan yang tepat sebelum ancaman berkembang lebih jauh.
- Memperkuat Monitoring, Detection, dan Response
-
- Mengintegrasikan People, Process, and Technology
Mengenali dan menghadapi threat actor tidak hanya bergantung pada teknologi keamanan. Organisasi membutuhkan kombinasi antara teknologi yang menyediakan visibilitas terhadap ancaman, proses yang memastikan pengelolaan insiden berjalan efektif, serta manusia yang mampu melakukan analisis dan mengambil keputusan.
Pendekatan people, process, dan technology membantu organisasi membangun kemampuan keamanan yang lebih adaptif dalam menghadapi perubahan threat landscape.
- Mengintegrasikan People, Process, and Technology
Memahami Threat Actor Berarti Membangun Pertahanan Siber yang Lebih Proaktif
Memahami siapa yang berada di balik sebuah serangan merupakan langkah penting dalam membangun pertahanan siber yang lebih proaktif. Namun, mengenali threat actor bukan berarti organisasi selalu dapat mengetahui identitas asli individu atau kelompok yang melakukan serangan. Dalam banyak kasus, pelaku menggunakan berbagai teknik untuk menyembunyikan jejak dan mengaburkan asal serangan.
Di tengah ancaman siber terus berkembang, serangan tidak lagi hanya dilakukan oleh individu dengan kemampuan teknis tertentu, tetapi juga oleh kelompok yang terorganisasi dengan motivasi, sumber daya, dan pola operasi yang berbeda. Karena itu, organisasi yang mampu memahami pelakunya akan memiliki kemampuan lebih baik untuk mengantisipasi risiko dan menjaga keberlangsungan bisnis.
Baca juga: DTrust Terdaftar ASPI sebagai Penyedia Jasa Audit Pengujian Keamanan
Lebih Cepat Memahami Threat Actor Bersama DTrust
Memahami threat actor tidak cukup mengandalkan teknologi keamanan. Organisasi memerlukan visibilitas yang menyeluruh terhadap lingkungan TI, pemantauan keamanan secara berkelanjutan, serta kemampuan threat detection dan incident response untuk mengumpulkan konteks ancaman dan mengenali pola aktivitas yang mencurigakan.
Belum lagi, kemampuan tersebut perlu didukung oleh sinergi antara people, process, dan technology agar organisasi dapat mengambil keputusan keamanan secara lebih cepat dan tepat.
Melalui layanan DTrust Managed Detection and Response (DMDR), organisasi memperoleh dukungan SOC 24×7×365 yang dipadukan dengan Threat Intelligence serta teknologi AI/ML untuk membantu mendeteksi, menganalisis pola ancaman, dan mempercepat respons terhadap insiden. Teknologi tersebut didukung proses penerapan dan tim engineer sesuai standar keamanan global.
Ingin mengetahui DTrust dapat membantu organisasi Anda membangun keamanan siber yang lebih proaktif? Konsultasikan kebutuhan Anda melalui info@dtrust.co.id atau hubungi langsung tim DTrust. Anda juga bisa melihat seluruh layanan DTrust melalui Portal Pelanggan DTrust.