Your Trusted Cloud Security Partner

Transformasi Hacktivis dari Aksi Simbolik ke Kejahatan Siber Terorganisir

Transformasi Hacktivis dari Aksi Simbolik ke Kejahatan Siber Terorganisir

Istilah hacktivis selama ini identik dengan aksi simbolik: situs pemerintah diretas, serangan DDoS massal sebagai bentuk protes digital, atau kebocoran data untuk “membuka fakta”. Publik kerap memandangnya sebagai bentuk ekstrem dari aktivisme yang murni digagas oleh ideologi.

Namun, hari ini lanskap sudah mulai berubah.

Di Indonesia, gerakan hacktivis tidak lagi berhenti pada pesan politik atau sosial. Dalam beberapa tahun terakhir, terjadi pergeseran signifikan, dari aktivisme digital menjadi sebuah kejahatan siber terorganisir dengan motif imbalan finansial. Serangan bukan lagi sekedar menunjukan eksistensi, tapi menjadi bagian dari rantai nilai ekonomi di dunia bawah siber atau cyber underground.

Fenomena ini kian meningkat di tahun 2025. Pemicunya tak lain karena makin maraknya kolaborasi hacktivis Indonesia yang berkomplot dengan pelaku atau kelompok kejahatan siber.

Di ruang cyber underground, persekutuan ini telah mengaburkan garis antara aktivisme dan bisnis kriminal. Hacktivis tidak lagi berdiri di wilayah abu-abu antara idealisme dan pelanggaran hukum, melainkan bergerak ke arah ekosistem ancaman yang memiliki struktur, peran, dan nilai ekonomi.

Pergeseran ini menuntut respons yang tidak reaktif, melainkan sistematis. Kami di DTrust melihat masih banyak organisasi yang belum memosisikan cybersecurity sebagai salah satu fondasi utama bagian dari strategi manajemen risiko.

Padahal, ketika hacktivis telah berevolusi menjadi aktor yang terhubung dengan jaringan kriminal, setiap celah kecil bisa berubah menjadi pintu masuk krisis yang berdampak pada operasional, reputasi, hingga keberlanjutan organisasi.

Apa itu Hacktivis dan Mengapa Definisinya Berubah?

Secara garis besar, hacktivist adalah individu atau kelompok yang menggunakan teknik peretasan untuk menyuarakan agenda politik, sosial, atau ideologis. Tindakannya seperti website defacement, serangan DDoS, hingga pembocoran data. Motif utamanya ketika hal itu bukan terkait finansial, tapi pesan yang disuarakan.

Namun, dalam praktik terbaru, definisi tersebut dianggap terlalu sempit. Tren terbaru di Indonesia dan kawasan Asia Pasifik, sepanjang tahun 2024 ditemukan dinamika baru yang tidak cukup dijelaskan oleh definisi tradisional hacktivis. Beberapa pola yang kini muncul, di antaranya:

    • Serangan mengatasnamakan aktivisme digital seperti DDoS atau kebocoran data.
    • Kolaborasi dengan pelaku model bisnis Ransomware as a Service.
    • Eksploitasi akses awal yang diperoleh dari Initial Access Broker.
    • Penjualan dan distribusi data hasil eksfiltrasi di forum gelap dan situs listing kebocoran data di dunia bawah siber.

Pola-pola ini tidak lagi sekadar melibatkan aksi tunggal yang bersifat simbolik. Mereka merupakan bagian dari ekosistem kejahatan siber yang terstruktur, di mana peran seperti peretas, broker, operator ransomware, dan pedagang data saling terhubung dalam jaringan kriminal digital bawah tanah.

Evolusi Hacktivis Indonesia: Target Serangan Lebih Strategis

Salah satu indikator lain paling jelas dari perubahan karakter hacktivis ini terlihat pada pergeseran target serangan. Ketika sebelumnya sasaran mereka cenderung simbolik seperti situs pemerintah daerah, lembaga publik, atau perusahaan yang sedang viral. Kini polanya berubah secara signifikan.

Target serangan menjadi jauh lebih strategis dan berdampak sistemik, di antaranya:

    • Infrastruktur digital sektor keuangan.
    • Layanan publik berbasis cloud.
    • Sistem pendidikan.
    • Infrastruktur energi dan manufaktur.

Serangan tak lagi sekedar bertujuan menunjukan eksistensi kelompok atau menarik perhatian publik. Dalam banyak kasus terbaru, operasi dilancarkan dengan pendekatan lebih terstruktur: menekan, memeras, mengeksploitasi akses, atau memanfaatkan data sebagai komoditas.

Tim DTrust menilai pola ini menunjukan bahwa sebagian kelompok mereka tidak lagi beroperasi secara oportunistik, melainkan semakin menyerupai aktor ancaman yang melakukan perencanaan target berbasis risiko dan imbal hasil.

Baca juga: Dari Prediksi ke Proteksi: Cara Threat Intelligence Melindungi Bisnis Anda

Mengapa Publik Perlu Khawatir?

Evolusi Hacktivist Indonesia: Target Serangan Lebih Strategis

Transformasi di atas mempertegas bahwa dampak dari target serangan tidak lagi terbatas pada satu organisasi, tapi berisiko menjalar ke rantai pasok digital, mitra bisnis, hingga end user.

Banyak orang yang berpikir: “Kalau saya bukan pejabat atau perusahaan besar, mengapa harus peduli?”

Namun, justru di situlah letak bahayanya.

    1. Ekonomi Digital Indonesia Sedang Bertumbuh Pesat

      Semakin banyak layanan publik, perbankan, dan bisnis bergantung pada sistem berbasis cloud. Ketika hacktivis berkolaborasi dengan jaringan kriminal, dampaknya tidak berhenti pada satu entitas. Satu serangan ke penyedia layanan, bisa menjalar ke ribuan organisasi lain melalui rantai pasok digital.

    2. Data Pribadi Menjadi Komoditas

      Data bocor menjadi bahan bakar untuk phising lanjutan, penipuan, rekayasa sosial tingkat lanjut, hingga serangan berbasis identitas.

    3. Narasi “Aktivisme” Menyamarkan Kejahatan

      Ketika aksi kriminal dibungkus isu ideologis, publik cenderung terpolarisasi. Fokus bergeser dari pelanggaran hukum menjadi perdebatan moral. Padahal, pencurian data tetaplah pencurian. Dan pemerasan tetaplah pemerasan.

Strategi Mitigasi Serangan Hacktivis di Lingkungan Organisasi dan Bisnis

Fenomena hacktivis yang semakin beririsan dengan kejahatan siber terorganisir menuntut respons yang tidak reaktif, tetapi sistematis.

Dari pengalaman tim DTrust menangani kebutuhan keamanan berbagai organisasi, berikut prinsip yang kami dorong dalam menghadapi ancaman hacktivit yang semakin kompleks:

    1. Pendekatan Zero Trust sebagai Standar Baru

      Alih-alih mengasumsikan sistem internal aman, Zero Trust justru sebaliknya. Ia memverifikasi setiap akses, tidak hanya dari luar jaringan, tapi dari dalam jaringan. Pendekatan ini menutup peluang lateral movement yang sering dimanfaatkan hacktivis.

    2. Threat Intelligence yang Kontekstual

      Ibarat kompas, threat intelligence bertugas untuk memetakan taktik, teknik, dan prosedur yang digunakan hacktivis, termasuk pergerakan mereka di forum cyber underground dan pola serangannya.

    3. Monitoring dan SOC 24/7

      Security Operations Center (SOC) melakukan pemantauan berkelanjutan yang memungkinkan deteksi anomali lebih cepat serta respon otomatis jika ada indikator yang merujuk pada serangan. Tujuannya bukan hanya melihat serangan, tetapi menghentikannya sebelum berdampak ke bisnis.

    4. Penguatan Human Layer

      Pelaku serangan masih melihat kelalaian manusia sebagai celah seperti phising atau dengan manipulasi. DTrust selalu menekankan bahwa pelatihan dan simulasi serangan merupakan bagian dari sistem keamanan, bukan hanya sekedar aktivitas tambahan.

    5. Incident Response yang Teruji

      Playbook respons insiden yang teruji, peran tim yang jelas, serta prosedur komunikasi krisis yang sistematis membantu organisasi agar tetap tenang dan tidak panik saat hacktivis menyerang.

Dark Storm Team dan Model Hackers-for-Hire

Salah satu contoh paling relevan untuk memahami pergeseran makna hacktivis menjadi bagian dari aktor kriminal terorganisir adalah kemunculan kelompok Dark Storm Team. Mereka tidak hanya menjalankan operasi serangan bermotif ideologis, tetapi juga menawarkan serangan siber berbayar Kelompok yang dalam beberapa tahun terakhir ini menjadi sorotan analis keamanan karena karakter operasinya yang berada di persimpangan antara aktivis ideologis dan layanan kejahatan siber yang dikomersilkan.

Kelompok ini diketahui menjalankan operasi DDoS dan bentuk cyber warfare lain terhadap pemerintah, infrastruktur, dan organisasi yang dianggap berseberangan secara geopolitik. Namun, yang membedakan mereka dari hacktivis klasik adalah fakta bahwa mereka juga menjual jasa serangan atau Hackers-for-Hire, termasuk DDoS dan pembobolan database.

Contoh serangan yang mereka lakukan misalnya saat mereka mengeluarkan ultimatum ancaman serangan terhadap negara-negara NATO, Israel, dan sekutunya. Selain itu, mereka mengklaim melakukan serangan terhadap infrastruktur AS, termasuk serangan DDoS ke bandara internasional John F. Kennedy pada Oktober 2024.

Ancaman ini menunjukan perubahan orientasi. Target bukan lagi simbol protes, tapi jadi objek strategis yang punya dampak operasional nyata.

Perlu Direspons dengan Sistematis dan Tidak Reaktif

Fenomena hacktivis dulu yang identik dengan aksi simbolik untuk menarik perhatian publik, kini sebagian aktornya telah bergeser menjadi entitas yang menggabungkan ideologi dan motif finansial hingga berkomplot dengan jaringan kejahatan siber terstruktur.

Hal ini menandai pergeseran ekosistem. Hacktivis modern dapat beroperasi seperti organisasi kriminal digital yang memiliki infrastruktur, jaringan kolaborasi, serta model bisnis serangan.

DTrust memandang perubahan ini sebagai sinyal peringatan bagi organisasi di Indonesia. Banyak institusi yang belum menjadikan keamanan siber sebagai prioritas.

Tanpa strategi proteksi yang matang, satu celah kecil dapat berkembang menjadi insiden berskala besar yang berdampak pada reputasi, operasional, hingga kepercayaan publik.

Baca juga: Cyber Warfare dan Masa Depan Pertahanan Indonesia

Segera Bangun Keamanan Siber Sistematis

DTrust membantu organisasi mengidentifikasi ancaman siber modern dengan proaktif. Dengan pendekatan cloud-centric security dan threat monitoring berkelanjutan, tim kami mendukung perusahaan membangun pertahanan yang adaptif terhadap ancamanan terbaru, termasuk hacktivist modern.

Evaluasi kesiapan perusahaan Anda sekarang dan pastikan sistem bisnis terlindungi sebelum menjadi target berikutnya.

DTrust, make you TRUSTed.

Share this article
Shareable URL
Prev Post

Mendeteksi Celah Keamanan Aplikasi Lewat Secure Code Review

Next Post

Phishing vs Spear Phishing, Mana Lebih Berbahaya?

Read next