Your Trusted Cloud Security Partner

Akses Sah yang Disusupi: Kenali dan Cegah Piggybacking Di Lingkungan Kerja

Akses Sah yang Disusupi: Kenali dan Cegah Piggybacking Di Lingkungan Kerja

Seorang pegawai yang sah masuk ke jaringan kantor, tetapi tanpa disadari, perangkat lain turut “menumpang” koneksi tersebut, baik karena malware, perangkat IoT yang tidak aman, atau bahkan seseorang yang berhasil mencuri kredensial login. Inilah contoh piggybacking.

Dalam konteks bisnis modern yang semakin terkoneksi, piggybacking tidak hanya terjadi secara fisik, seperti seseorang yang ikut masuk ke pintu kantor tanpa kartu akses, tetapi juga secara digital, di mana penyerang menyusup melalui jalur otentikasi, jaringan Wi-Fi, atau akun pengguna lain.

Bagi organisasi yang memiliki sistem digital kompleks, ancaman ini sering kali tidak terdeteksi karena piggybacking memanfaatkan kepercayaan: pengguna yang sah, perangkat yang tampak normal, atau sesi login yang masih aktif.

Apa Itu Serangan Piggybacking?

Piggybacking adalah sebuah taktik siber yang memanfaatkan “tumpangan” akses jaringan aman dari pengguna sah untuk menembus sistem. Piggybacking terjadi ketika ada tindakan seseorang atau sistem berbahaya yang ikut menumpang pada koneksi atau sesi autentikasi sah untuk mendapatkan akses ke jaringan, data, atau aplikasi.

Tailgating vs Piggybacking

Istilah Piggybacking sering digunakan bergantian dengan tailgating. Namun, keduanya memiliki perbedaan. Tailgating terjadi ketika seseorang secara fisik mengikuti orang yang berwenang untuk masuk ke area terbatas atau gedung tanpa otorisasi, misalnya, ikut masuk ke ruang kantor tanpa kartu akses sendiri.

Sementara itu, piggybacking memanfaatkan sesi aktif atau kredensial pengguna sah untuk mendapatkan akses tidak sah ke sistem atau jaringan digital.

Keduanya sama-sama merupakan risiko keamanan serius yang dapat mengakibatkan kebocoran data, pelanggaran kebijakan akses, dan potensi serangan lanjutan.

Intinya, piggybacking memanfaatkan trust chain yang seharusnya melindungi sistem dan menjadikannya ancaman yang sulit dideteksi, tetapi berpotensi fatal.

Bagaimana Piggybacking Bisa Terjadi di Lingkungan Kerja

Piggybacking tidak selalu terjadi dengan cara yang sama. Ada beragam cara bagi pelaku serangan untuk melakukan tindakan ini. Berikut beberapa bentuk umum piggybacking yang sering ditemui di lingkungan bisnis:

    1. Password Sharing

      Terjadi ketika pengguna sah membagikan kredensial login mereka kepada pihak lain yang tidak berwenang. Praktik ini masih sering ditemui dalam tim yang bekerja jarak jauh atau berbagi akses aplikasi, padahal berisiko tinggi membuka celah keamanan.

    2. Physical Access

      Meskipun konteksnya fisik, praktik ini relevan dalam sistem terintegrasi, misalnya, seseorang menggunakan kartu akses atau kunci milik karyawan lain untuk masuk ke ruang server, yang kemudian membuka peluang akses digital tidak sah.

    3. Remote Access

      Penyerang menggunakan kredensial curian atau bocoran akun untuk mengakses jaringan perusahaan dari jarak jauh. Ini sering terjadi melalui serangan phishing atau kebocoran data akun lama yang belum dirotasi.

    4. Wi-Fi Piggybacking

      Kasus khusus di mana individu tidak sah menyusup ke jaringan Wi-Fi kantor atau pribadi tanpa izin, sering kali dengan memanfaatkan password lemah atau celah keamanan router.

    5. Social Engineering

      Dalam skenario ini, pelaku memanipulasi karyawan agar secara sukarela memberikan akses, misalnya dengan berpura-pura sebagai staf IT internal atau vendor terpercaya.

Baca juga: Digital Vishing: Saat Suara Telepon Dipalsukan oleh AI

Risiko Piggybacking bagi Bisnis

Meskipun terdengar sederhana, piggybacking dapat berujung pada konsekuensi serius. Bagi bisnis, piggybacking dapat menyebabkan beberapa kerugian, di antaranya:

    1. Kebocoran data sensitif karena pihak tak sah bisa mengakses sistem internal.
    2. Kompromi keamanan fisik, misalnya pemasangan perangkat pengintai atau pencurian aset.
    3. Gangguan operasional, seperti sabotase atau penyusupan malware melalui perangkat internal.
    4. Pelanggaran kepatuhan terhadap standar keamanan (misalnya ISO 27001, PP 71/2019).

Di banyak kasus, pelanggaran fisik ini kemudian menjadi titik awal serangan siber,  menjadikan piggybacking sebagai “jembatan” antara ancaman fisik dan digital.

Strategi Mencegah Piggybacking

Dalam banyak kasus, pelaku serangan piggybacking tidak perlu meretas sistem yang rumit, mereka cukup memanfaatkan celah kepercayaan, seperti pintu yang terbuka atau akun yang dipinjamkan. Untuk itu, perusahaan perlu menerapkan strategi pencegahan yang menyeluruh, mencakup lapisan fisik, digital, dan perilaku manusia.

Berikut beberapa langkah yang dapat membantu memperkuat keamanan kantor dan mencegah insiden piggybacking:

    1. Terapkan Kebijakan Zero Trust di Area Fisik

      Sama seperti sistem digital, setiap akses fisik harus diverifikasi. Jangan berasumsi semua orang yang “berada di dalam” adalah pihak yang berwenang.

    2. Gunakan Teknologi Access Control Modern

      Seperti smart card, biometrik, atau sistem berbasis cloud yang merekam aktivitas masuk dan keluar secara real-time.

    3. Lakukan Pelatihan Keamanan kepada Karyawan

      Edukasi bahwa menahan pintu, meminjamkan kartu akses, atau membagikan akun merupakan pelanggaran keamanan.

    4. Audit & Monitoring Akses Secara Berkala

      Pastikan log akses fisik dan digital diperiksa secara rutin untuk mendeteksi anomali atau aktivitas mencurigakan.

    5. Manajemen Identitas dan Hak Akses (IAM)

      Pastikan setiap karyawan, vendor, atau tamu hanya memiliki akses sesuai kebutuhan, dan akses tersebut langsung dicabut saat tidak lagi diperlukan.

Baca juga: Waspada Pharming: Serangan Website Palsu yang Mengintai Data Pribadi

Bangun Budaya Keamanan Dimulai dari Kebiasaan Kecil

Di era ancaman digital yang semakin canggih, kesadaran dan kebiasaan kecil justru menjadi benteng pertama untuk melindungi sistem, data, dan reputasi bisnis Anda. Piggybacking sering kali dimulai dari kebiasaan kecil yang disepelekan, seperti menahan pintu untuk orang lain, berbagi akun dengan rekan kerja, atau membiarkan perangkat tetap login saat meninggalkan meja. Celah-celah sederhana ini sering menjadi pintu masuk bagi ancaman yang jauh lebih besar.

Membangun keamanan di perusahaan tidak cukup hanya dengan teknologi mutakhir atau kebijakan yang ketat. Keamanan yang efektif tumbuh dari budaya sadar keamanan (security awareness culture) yang dimiliki seluruh karyawan. Setiap individu mesti memahami bahwa menjaga akses dan informasi adalah tanggung jawab bersama. Ketika budaya ini tertanam kuat, setiap tindakan kecil menjadi bagian dari pertahanan organisasi.

DTrust, make you TRUSTed.

Share this article
Shareable URL
Prev Post

Trust Insight – Volume 03/November 2025

Next Post

Vulnerability Alert: Kerentanan Kritis di Plugin Post SMTP, Update Sekarang!

Read next