Dalam berbagai asesmen keamanan yang tim kami lakukan, satu pola berulang yang berisiko menjadi pintu masuk serangan adalah penggunaan password yang lemah. Celah ini paling sering ditemukan pada usaha kecil dan menengah yang belakangan menjadi target favorit pelaku serangan siber.
Meski teknologi yang digunakan canggih, keamanan password yang lemah dan mudah ditebak, sudah cukup jadi modal bagi peretas untuk membuka pintu ke sistem bisnis.
Survei tahunan Oh, Behave! dari National Cybersecurity Alliance mencatat, 35 persen partisipan mengaku masih memasukkan informasi pribadi seperti nama hewan, keluarga, hingga tanggal lahir, ke dalam password mereka.
Angka tersebut menunjukkan bahwa keamanan digital bisnis kerap dianggap sepele. Padahal, konsekuensinya tak main-main: kebocoran data, kerusakan reputasi, dan potensi kerugian finansial yang tidak kecil.
Mengapa Keamanan Password Sangat Penting untuk Bisnis?
Password lemah ibarat gembok plastik di gerbang utama. Begitu password dicuri, peretas bisa melenggang masuk ke email bisnis, aplikasi internal, hingga dashboard cloud.
Serangan lanjutan seperti phishing internal, pengambilalihan akun admin, dan penyebaran malware tinggal menunggu waktu.
CISA menilai UMKM sebagai sasaran empuk: operasional digital berjalan, tapi kontrol keamanannya sering minim.
Tips Membangun Password yang Kuat
Password yang aman setidaknya harus memiliki tiga elemen utama: long, random, unique.
-
- Long: Minimal 16 Karakter
Standar modern menyarankan minimal 16 karakter. Semakin panjang, semakin sulit diretas oleh bot otomatis.
- Random: Kombinasi Karakter atau Passphrase Acak
Gunakan gabungan huruf besar/kecil, angka, simbol, atau passphrase dengan 5–7 kata acak yang tidak saling berhubungan. Contoh: laut-bulan-jendela-karpet-sunyi.
- Unique: Satu Akun, Satu Password
Hindari menggunakan password yang sama di banyak aplikasi. Jika satu layanan bocor, layanan lain tetap aman.
- Long: Minimal 16 Karakter
Baca juga: Phishing Campaign: Cara Efektif Melatih Security Awareness Karyawan di Perusahaan Anda
Menguatkan Keamanan Password di Lingkungan Kerja

Keamanan password (password security) tak bisa lepas dari kebiasaan personal dalam menjaga keamanan pribadi. Membangun budaya siber yang kuat berarti seluruh tim memahami dan mengikuti praktik terbaik, salah satunya dengan menerapkan keamanan password.
-
- Wajibkan Password Kuat untuk Semua Akses Kerja
Mulai dari email perusahaan hingga perangkat jaringan seperti router dan firewall.
Kebijakan sebaiknya mencakup:-
- Minimal 16 karakter
- Passphrase acak
- Larangan reuse password
- Larangan memakai data pribadi
-
- Gunakan Multi-Factor Authentication (MFA)
MFA menjadi garis pertahanan kedua ketika password jatuh ke tangan yang salah. Jenis yang disarankan:
-
- Security key (tahan phishing)
- Authenticator app (lebih aman dari OTP SMS)
-
- Gunakan Password Manager di Seluruh Tim
Manajer password membantu menghasilkan kredensial acak, menyimpannya secara terenkripsi, dan mengurangi peluang salah ketik atau reuse.
Saat kebutuhan bertambah, perusahaan dapat beralih ke Identity & Access Management (IAM) dan Single Sign-On (SSO). - Hapus Kebiasaan Menggunakan Default Password
Banyak perangkat datang dengan password bawaan yang bisa ditemukan siapa saja, mulai dari label perangkat hingga situs vendor. Mengganti password default sebelum perangkat digunakan adalah langkah awal yang krusial.
- Wajibkan Password Kuat untuk Semua Akses Kerja
Studi Kasus
Sebuah perusahaan transportasi berusia 158 tahun di Inggris, KNP, menjadi korban serangan ransomware yang berujung pada pemutusan hubungan kerja lebih dari 700 karyawan. Insiden yang terjadi pada 2023 itu dipicu oleh satu celah sederhana: password karyawan yang lemah dan mudah ditebak.
Kelompok peretas Akira berhasil menembus sistem hanya dengan menebak satu kata sandi, kemudian mengenkripsi seluruh data perusahaan dan mengunci akses internal. Mereka menuntut tebusan untuk mengembalikan akses tersebut. Meski jumlah resminya tidak dipublikasikan, firma negosiasi ransomware memperkirakan nilai tebusan dapat mencapai £5 juta atau sekitar Rp 110 miliar.
Besarnya kerugian dan hilangnya akses ke data penting membuat KNP tidak mampu melanjutkan operasionalnya, hingga akhirnya dinyatakan bangkrut. Direktur perusahaan, Paul Abbott, bahkan belum sempat memberitahu karyawan mengenai runtuhnya perusahaan akibat kompromi password tersebut.
Kasus ini menunjukkan bahwa kelemahan dalam password bahkan di perusahaan besar atau mapan dapat menjadi titik runtuh yang fatal bila tidak ditangani dengan serius.
Integrasi Trust Identity dengan Penguatan MFA
Pada tingkat pengguna umum, MFA menjadi lapisan kedua setelah password. Namun pada level yang lebih kritis seperti akun administrator, server, database, dan sistem inti, penguatan MFA saja belum cukup. Untuk itu, layanan Trust Identity dari DTrust berperan memberikan kontrol yang lebih ketat.
Privileged Access Management (PAM) yang ditawarkan Trust Identity memastikan bahwa seluruh akun dengan hak akses tinggi tidak hanya menggunakan password yang kuat, tetapi “dipaksa” melalui alur autentikasi berlapis yang konsisten.
Dengan kata lain, jika MFA adalah pengaman untuk akun biasa, maka PAM adalah pengaman tingkat lanjut untuk akun yang memiliki kemampuan mengubah konfigurasi, mengakses data sensitif, atau memanipulasi infrastruktur.
Baca juga: Cara Mencegah Data Bocor dan Beredar di Dark Web
Langkah Sederhana yang Krusial
Keamanan password bukan hanya kebutuhan teknis, tetapi pondasi penting sebagai fondasi keamanan di ekosistem digital yang makin padat ancaman.
Langkah sederhana seperti passphrase panjang, password manager, dan MFA dapat mengurangi banyak risiko sebelum berubah menjadi insiden besar.
Dengan menerapkan kebijakan keamanan password, Anda memberikan perlindungan terbaik bagi data, sistem, dan reputasi bisnis.
DTrust, make you TRUSTed.