Serangan supply chain seperti MOVEit menunjukkan bahwa celah kecil di satu komponen bisa menimbulkan dampak besar bagi ribuan organisasi. Inilah mengapa Software Bill of Materials (SBOM) mulai dianggap sebagai game changer, memberikan visibilitas menyeluruh terhadap komponen software yang digunakan.
Namun, hanya memahami pentingnya SBOM saja belum cukup. Agar SBOM benar-benar memberi nilai, perusahaan perlu mengaitkannya dengan framework dan tools yang sudah teruji.
Framework membantu memberi arah strategis dalam tata kelola supply chain security, sementara tools memastikan eksekusi teknis berjalan konsisten dan terkontrol.
Baca juga: Software Bill of Materials (SBOM): Kunci Transparansi dan Keamanan dalam Supply Chain Attack
Frameworks
-
- NIST SP 800-161
Memberikan panduan komprehensif tentang Supplier Security Risk Management. Framework ini menekankan governance, kontrak dengan vendor, dan monitoring berkelanjutan, membantu organisasi menilai risiko bukan hanya dari sisi teknis, tetapi juga dari sisi manajemen rantai pasokan.
- NIST SP 800-161
-
- Software Supply Chain Assurance (SCCA)
Menyediakan kerangka kerja untuk mengevaluasi tingkat kepercayaan terhadap vendor software. Dengan SCCA, perusahaan bisa memastikan bahwa setiap pihak yang terlibat dalam supply chain memiliki kontrol keamanan yang memadai.
- Software Supply Chain Assurance (SCCA)
-
- SLSA (Supply-chain Levels for Software Artifacts)
Framework open source (dipimpin oleh Google) yang memberikan level (1–4) untuk menilai integritas build software. Semakin tinggi levelnya, semakin ketat kontrol keamanan pada build pipeline.
- SLSA (Supply-chain Levels for Software Artifacts)
Tools
-
- SPDX (Software Package Data Exchange)
Standar terbuka yang banyak digunakan untuk representasi SBOM. Dengan SPDX, SBOM bisa dibaca lintas sistem dan mempermudah integrasi antar vendor maupun alat keamanan lain.
- SPDX (Software Package Data Exchange)
-
- In-toto
Menyediakan verifikasi end-to-end pada proses build. Artinya, setiap langkah dalam pengembangan, mulai dari source code hingga artefak akhir, tercatat dan bisa diverifikasi, sehingga manipulasi dalam pipeline dapat dicegah.
- In-toto
-
- OWASP Dependency-Check
Alat populer untuk mendeteksi dependency berisiko secara otomatis. Dependency-Check memindai library dan membandingkannya dengan database CVE yang sudah diketahui, sehingga kerentanan dapat diidentifikasi lebih cepat.
- OWASP Dependency-Check
Peran MSSP
Bagi banyak organisasi, menerapkan framework dan tools ini tidak selalu mudah. Di sinilah Managed Security Service Provider (MSSP) hadir untuk:
-
- Membantu menilai kesiapan dan kesesuaian framework (misalnya audit readiness terhadap SLSA).
- Menyediakan layanan otomatisasi SBOM generation, dependency scanning, dan integrasi dengan vulnerability management.
- Menghubungkan hasil analisis SBOM dan tools ke SOC/XDR, sehingga monitoring menjadi berkesinambungan dan proaktif.
Masa Depan Supply Chain Security Dimulai dari SBOM Anda
Pada akhirnya, SBOM hanyalah titik awal dalam membangun supply chain security yang tangguh. Framework seperti NIST SP 800-161 dan SLSA, ditambah tools open-source seperti SPDX dan in-toto, memberi organisasi fondasi teknis dan strategis yang solid. Tetapi tanpa implementasi yang konsisten, manfaatnya bisa hilang begitu saja.
Di sinilah peran MSSP menjadi krusial, mulai dari membantu organisasi mengadopsi framework sesuai tingkat maturitasnya, mengotomatisasi pembuatan dan analisis SBOM, hingga menghubungkannya langsung ke SOC/XDR agar deteksi ancaman lebih cepat dan proaktif.
Ke depan, adopsi SBOM akan semakin erat kaitannya dengan regulasi internasional dan integrasi dengan AI-driven threat intelligence, yang membuat respon terhadap serangan supply chain lebih prediktif, bukan sekadar reaktif.
Perusahaan yang bergerak lebih cepat hari ini akan jauh lebih siap menghadapi ancaman dan regulasi esok hari. Hubungi kami untuk mengetahui bagaimana DTrust dapat membantu perusahaan Anda mengelola SBOM dengan lebih efektif.
DTrust, Your TRUSTed Cloud Security Partner.