Pernahkah Anda menerima telepon dari seseorang yang suaranya terdengar sangat familiar, mungkin rekan kerja, atasan, atau bahkan anggota keluarga, tapi ternyata itu bukan mereka?
Hati-hati, bisa jadi Anda baru saja menjadi target vishing, bentuk penipuan digital yang kini semakin canggih berkat teknologi AI dan deepfake audio.
Apa Itu Vishing?
Vishing adalah singkatan dari voice phishing, yaitu upaya penipuan melalui panggilan telepon untuk mencuri informasi sensitif, seperti data akun, password, atau detail keuangan.
Kalau dulu pelaku hanya bermodalkan suara palsu atau skrip manipulatif, kini mereka memanfaatkan kecerdasan buatan (AI) untuk meniru suara seseorang secara realistis, lengkap dengan intonasi, nada bicara, bahkan aksen yang mirip aslinya.
Hasilnya? Korban sulit membedakan mana suara asli, mana hasil rekayasa.
Ketika AI Ikut Bermain
Dengan kemajuan teknologi voice cloning, suara seseorang kini bisa dipalsukan secara halus.
AI cukup “belajar” dari rekaman suara target yang tersedia di internet, misalnya dari podcast, video TikTok, atau wawancara. Dalam waktu singkat, sistem ini dapat menghasilkan suara sintetis yang sulit dibedakan dari suara asli.
Bahkan, menurut laporan McAfee (2023), 1 dari 10 orang di dunia pernah menerima panggilan atau pesan dari suara yang dikloning menggunakan AI, dan 77% di antaranya mengaku kehilangan uang akibat menanggapinya sebagai panggilan asli.
Beberapa perusahaan besar pun jadi korban, seperti kasus vishing terhadap CEO LastPass pada 2024, di mana pelaku meniru suara bos untuk menipu karyawan.
Mengapa Banyak yang Tertipu?
Suara terasa lebih emosional dan personal. Berbeda dengan email atau chat, mendengar suara seseorang yang kita kenal membuat kita cepat percaya. Terlebih lagi, pelaku sering memainkan situasi mendesak, seperti “Ini penting banget, tolong segera kirimkan dananya,” atau “Ini saya, anakmu, cepat bantu, aku butuh uang sekarang.”
Tekanan emosional seperti inilah yang membuat banyak orang menuruti permintaan tanpa berpikir panjang. Dan menurut studi yang dipublikasikan di arXiv (2023), manusia hanya bisa membedakan suara asli dan deepfake dengan akurasi sekitar 73%, artinya hampir 1 dari 3 orang bisa tertipu.
Contoh Kasus Nyata
-
- Lembaga Keuangan: Laporan Group-IB mencatat lebih dari 10% bank besar pernah mengalami penipuan vishing berbasis deepfake, dengan kerugian rata-rata US$600.000 per kasus.
- Asia Tenggara: Menurut Channel News Asia, penipuan berbasis AI meningkat hampir 200% di wilayah Asia-Pasifik, dan vishing termasuk yang paling sering digunakan.
Bagaimana Cara Melindungi Diri dari Vishing
Tenang, ada beberapa cara praktis untuk tetap aman dari serangan ini:
-
- Jangan langsung percaya suara, meskipun familiar.
Jika panggilan terasa mencurigakan, akhiri dulu dan hubungi balik orang tersebut lewat nomor resmi.
- Jangan pernah bagikan OTP, PIN, atau data pribadi lewat telepon.
Pihak resmi tidak akan pernah memintanya, bahkan dalam kondisi mendesak sekalipun.
- Verifikasi lewat saluran lain.
Gunakan email kantor, chat resmi, atau tatap muka untuk memastikan kebenaran permintaan.
- Tingkatkan kesadaran siber di tempat kerja.
Pelatihan keamanan digital bisa membantu karyawan mengenali ciri-ciri panggilan vishing.
- Gunakan sistem keamanan yang proaktif.
Solusi seperti AI threat detection dapat membantu mendeteksi pola komunikasi mencurigakan dan mencegah manipulasi berbasis suara
- Jangan langsung percaya suara, meskipun familiar.
Penutup
Vishing menunjukkan bahwa kejahatan digital kini tidak lagi sekadar soal pesan teks atau email palsu, tapi juga bisa menyamar lewat suara yang terdengar begitu nyata.
Teknologi memang semakin pintar, tapi kesadaran kita juga harus ikut berkembang.
Karena di dunia yang serba cepat ini, sedikit kehati-hatian sebelum percaya bisa menjadi langkah sederhana untuk melindungi diri, dan mungkin juga orang lain.
DTrust, Your TRUSTed Cloud Security Partner.