Tahun ini, dunia menyaksikan konflik terbuka antara Iran dan Israel yang secara langsung mengubah bentuk arsitektur keamanan global.
Di balik perang fisik, ada medan tempur lain yang tak kalah sibuk tapi jarang terlihat: dunia digital. Cyberspace kini bukan lagi pelengkap perang, ia adalah medan perang itu sendiri.
Perubahan terbesar dalam cyber warfare saat ini bukan soal seberapa sering atau besar serangan terjadi, tapi bagaimana negara-negara mulai memakai AI sebagai senjata utama, bukan sekadar alat bantu analisis. AI kini bisa mendeteksi, menganalisis, dan menyerang secara otomatis tanpa bantuan manusia.
Artificial Intelligence dalam Cyber Warfare
-
-
AI-Driven Satellite Image Analysis untuk Target Acquisition
Dalam konflik Ukraina dan kini di Timur Tengah, AI digunakan untuk mengekstrak target militer dari citra satelit secara otomatis, bahkan dari gambar resolusi rendah. Model computer vision dilatih untuk mengenali konfigurasi rudal pertahanan udara, konvoi kendaraan, hingga peluncur roket tersembunyi.
IDF diduga menggunakan sistem analitik citra berbasis AI untuk mendeteksi lokasi peluncur roket di area sipil Gaza yang disamarkan sebagai bangunan umum. Sementara itu, kelompok proxy Iran seperti Hizbullah mulai mengembangkan versi murah dengan bantuan imagery drone dan LLM untuk klasifikasi target on-device.
-
LLM untuk Real-Time Battlefield Information Operations (InfoOps)
Model generative AI digunakan untuk menyusun narasi palsu, disinformasi, dan deepfake (teks maupun video) dalam hitungan detik. Tujuannya tak hanya propaganda, tetapi juga membentuk persepsi lokal maupun internasional terhadap aksi militer.
Pasca serangan udara di Rafah, ratusan akun bot menyebarkan narasi bahwa “target adalah gudang senjata Hamas”. Narasi ini tampak manusiawi, namun setelah ditelusuri berasal dari konten berbasis LLM.
-
Autonomous Reconnaissance Drone AI Coordination
UAV kini dilengkapi navigasi semi-autonomous berbasis CV dan AI-routing untuk menembus sistem pertahanan musuh. AI memungkinkan pengambilan jalur infiltrasi secara real-time berdasarkan analisis topografi, sinyal, dan thermal footprint.
Ukraina, misalnya, menggunakan drone berbasis AI untuk menjangkau stasiun relay Rusia dengan rute yang tak diprogram manual, guna menghindari jamming dan radar.
-
Coordinated Disruption via AI-Enhanced Credential Harvesting & Targeted Wipe
Operasi ofensif seperti AcidRain (serangan Rusia ke Viasat) kini diakselerasi AI yang mengotomasi pemetaan kredensial antarsistem, menargetkan komponen strategis, bukan sekadar encryption atau vandalisme data.
AI digunakan untuk memilih node target dalam sistem komunikasi militer (seperti uplink satelit), lalu memodifikasi payload untuk menghancurkan firmware, bukan hanya OS. Pola ini sangat mungkin direplikasi oleh aktor negara untuk menyerang sistem C4IST berbasis satelit milik negara seperti Indonesia.
-
Cross-Domain Attack Chaining via Language Model Agents
Agen otonom menggunakan LLM untuk memahami konfigurasi jaringan, struktur organisasi, hingga SOP militer hasil scraping dokumen terbuka. Serangan tidak hanya bersifat teknis, tapi juga diarahkan berdasarkan pemahaman struktural terhadap rantai komando dan logistik musuh.
Dalam kasus Ukraina, serangan diduga menggunakan dokumen pelatihan NATO yang disusupi untuk menyusun attack chain berurutan: logistik > relay > komando > eksekusi.
-
Baca Juga: Data Breach adalah Ancaman Nyata di Era Digital: Kenali Bagaimana Cara Mencegahnya
Bagaimana Indonesia Menghadapi Potensi Cyber Warfare?

Pertahanan siber seharusnya tidak lagi sebatas “mengamankan sistem”, melainkan menjadi bagian dari strategi penangkalan aktif (active deterrence). Yes, for actual war. Not mitigation. Arsitektur pertahanan siber masa depan harus dirancang dengan postur offensive-defensive.
Buku Putih Pertahanan Negara Republik Indonesia memang sudah menekankan pentingnya penguatan pertahanan siber, terutama pada:
-
- Perlindungan terhadap infrastruktur vital nasional (Critical Information Infrastructure/CII).
- Penyiapan kapasistas pertahanan multidomain, termasuk ranah siber dan elektromagnetik.
- Modernisasi pertahanan melalui teknologi distruptif seperti AI dan big data.
Namun, terdapat beberapa kelemahan kritis, antara lain:
-
- Belum secara eksplisit menyebut AI sebagai ancaman ofensif (misalnya: AI-accelerated reconnaissance, payload morphing or disinformation operations).
- Masih bersifat defensif dan birokratis, cenderung berfokus pada penguatan kelembagaan (BSSN, Kominfo, Pusdikhub TNI) daripada simulai nyata terhadap perang digital atau cyber warfare.
- Belum membahas konsep deterrence aktif di ranah digital seperti AI-guided deception, automated response, atau proactive adversarial simulation.
Dengan kata lain, arah strategisnya sudah ada, tetapi belum membumi ke dalam postur operasional dan respons skenario yang realistis terhadap AI-driven warfare seperti yang kini terjadi di Timur Tengah dan Eropa Timur.
Tantangan Nyata Kesiapan Siber Indonesia
Dari hasil observasi, berikut tantangan faktual yang menghambat kesiapan Indonesia:
-
- Infrastruktur pertahanan siber masih terfragmentasi. Koordinasi antar lembaga (TNI, BSSN, Kominfo, BIN) masih bersifat struktural, belum mencapai interoperabilitas sistem dan informasi real-time.
- Ketiadaan sistem deteksi & respons otomatis berbasis AI. Belum ada publikasi resmi yang menunjukkan Indonesia memiliki sistem pertahanan siber AI yang mampu merespons serangan real-time dengan low-latency decision.
- Ketergantungan tinggi pada vendor asing. Sistem nasional masih bergantung pada solusi luar (Barat/Tiongkok), dan belum ada national AI core untuk pertahanan seperti Korea Selatan, Israel, atau bahkan Iran.
- Absennya doktrin penangkalan siber. Indonesia tidak memiliki deklarasi, strategi, atau demonstrasi kemampuan retaliation terhadap serangan digital. Hal ini membuat Indonesia lebih rentan sebagai proxy target ketimbang pemain aktif yang mampu menetapkan ambang batas dalam konflik digital.
Baca Juga: Deepfake Sextortion: Kejahatan AI yang Mengintai di Tengah Rendahnya Literasi Digital
Kesimpulan: Siapa Cepat, Dia Selamat
Ancaman cyber warfare berbasis AI bukan lagi skenario masa depan, melainkan kenyataan yang sedang berlangsung. Negara seperti Indonesia sangat mungkin menjadi korban kolateral jika sistem pertahanan nasional masih berkutat pada birokrasi dan compliance.
Negara yang sukses dalam perang digital bukanlah yang memiliki peralatan paling mahal, melainkan yang mampu membangun postur digital aktif, yaitu kombinasi kapabilitas teknis, doktrin kuat, dan keberanian untuk bertindak sebelum serangan datang.
“Dalam cyber warfare, yang paling duluan paham sistem berpikir lawan—bukan hanya infrastrukturnya—dialah yang akan menang, bahkan sebelum konflik dimulai.” –Byteskrew
DTrust, Your TRUSTed Cloud Security Partner.