Your Trusted Cloud Security Partner

Apa Itu Cyber Kill Chain? Mengenal Fase Serangan Siber dari Awal Hingga Eksekusi

Apa Itu Cyber Kill Chain? Mengenal Fase Serangan Siber dari Awal Hingga Eksekusi

Serangan siber bukan lagi kejadian tunggal yang muncul tiba-tiba, melainkan serangkaian langkah sistematis yang dijalankan dengan rapi oleh penyerang.

Setiap fase memiliki tujuan spesifik, mulai dari mengintai target, menyusup, hingga mengeksekusi aksi berbahaya seperti pencurian data atau ransomware.

Bagi organisasi, memahami pola ini menjadi kunci untuk mengantisipasi serangan lebih awal. Salah satu kerangka kerja paling banyak digunakan untuk membaca pola tersebut adalah Cyber Kill Chain.

Baca Juga: Cybersecurity Mesh Architecture (CSMA): Masa Depan Infrastruktur Keamanan Digital

Apa Itu Cyber Kill Chain?

Cyber Kill Chain adalah kerangka kerja yang dikembangkan oleh Lockheed Martin untuk memetakan tahapan serangan siber dari awal hingga tujuan akhir.

Konsep ini awalnya ditujukan untuk menghadapi serangan bertarget, atau Advanced Persistent Threats (APT), dan kini juga relevan untuk berbagai jenis serangan canggih.

Dengan memecah serangan menjadi langkah-langkah berurutan, tim keamanan dapat mengidentifikasi titik lemah, mengembangkan countermeasure, dan menghentikan penyerang sebelum mencapai sasaran.

Tahapan Cyber Kill Chain

Berikut adalah tujuh tahapan utama model Cyber Kill Chain (versi Lockheed Martin):

    1. Reconnaissance (Pengintaian): Pengumpulan intel publik (OSINT), pemindaian port, atau penelusuran karyawan untuk menemukan titik masuk potensial.
    2. Weaponization (Persenjataan): Menyatukan exploit dengan payload (mis. malware, dokumen ber-macro) yang siap dikirim.
    3. Delivery (Pengiriman): Vektor masuk seperti phishing email, lampiran berbahaya, drive-by download, atau akses RDP/VPN.
    4. Exploitation (Eksploitasi): Payload menjalankan exploit pada kerentanan target, momen di mana pertahanan harus menghentikan eksekusi jahat.
    5. Installation (Instalasi): Malware menanamkan backdoor atau persistence mechanism untuk mempertahankan akses.
    6. Command & Control (C2): Penyerang membangun saluran komunikasi jarak jauh untuk mengendalikan sistem yang terkompromi.
    7. Actions on Objectives (Aksi Tujuan): Tujuan akhir tercapai, pencurian data, enkripsi ransomware, sabotase, atau pengintaian lanjutan.

Dengan memahami setiap tahap ini, tim keamanan dapat menyesuaikan pertahanan dan mendeteksi aktivitas penyerang lebih dini.

Baca Juga: Cyber Warfare dan Masa Depan Pertahanan Indonesia

Mengapa Model Ini Berguna?

Model Cyber Kill Chain bukan sekadar teori, insiden besar menegaskan kegunaannya sebagai alat analitis. Contoh insiden yang nyata adalah:

    1. Eksploitasi MOVEit & Clop (Mei 2023)

      Grup Clop mengeksploitasi kerentanan SQLi pada perangkat lunak transfer file MOVEit untuk mencuri dan mengeksfiltrasi data dalam skala besar, dampaknya mencapai puluhan juta catatan kompromi pada banyak organisasi global.
      Analisis insiden menunjukkan rangkaian jelas, yaitu pengintaian, eksploitasi zero-day, eksfiltrasi data (aksi tujuan). Kasus ini memperlihatkan bagaimana deteksi cepat pada tahap Delivery/Exploitation dapat mencegah eskalasi.

    2. Serangan LockBit & penggunaan Cobalt Strike (2024–2025)

      Banyak kasus LockBit dimulai dengan akses awal melalui malware/credential theft lalu menggunakan Cobalt Strike untuk persistence dan C2 sebelum eksekusi ransomware.
      Rangkaian ini menggambarkan bagaimana beberapa tahap Cyber Kill Chain (Installation → C2 → Actions) bekerja sebagai pipeline yang dapat dimitigasi dengan EDR/XDR dan monitoring egress.

Secara makro, laporan nasional dan industri menunjukkan peningkatan insiden siber dan kerugian finansial besar, misalnya laporan IC3/FBI 2024 yang mencatat total kerugian miliaran USD.

Bagaimana Tim Keamanan Memutus Cyber Kill Chain?

Prinsip praktisnya adalah deteksi dan ganggu satu atau beberapa tahap agar keseluruhan rantai gagal. Contoh kontrol yang efektif:

    1. Threat intelligence & attack surface management untuk mengurangi jejak publik (mengganggu Reconnaissance).
    2. Patch management & hardening untuk menutup lubang (mengurangi peluang Exploitation).
    3. E-mail security, URL filtering & sandboxing untuk menghentikan Delivery/Weaponization.
    4. EDR/XDR & network anomaly detection untuk mendeteksi Installation dan C2 lebih cepat.

Baca Juga: AI dalam Cyber Security untuk Masa Depan Digital Indonesia

Kesimpulan: Putus Serangan Sebelum Terjadi

Cyber Kill Chain membantu organisasi memahami dan menghentikan ancaman sejak dini.

DTrust dari Datacomm menggabungkan pemantauan 24/7, threat intelligence, dan kapabilitas XDR/SOC yang didesain untuk mendeteksi indikator pada setiap tahap Cyber Kill Chain, dari pengintaian hingga pencegahan eksfiltrasi, sehingga organisasi dapat memutus serangan lebih awal dan mengurangi dampak bisnis.

Ingin membuktikan bagaimana DTrust bisa melindungi bisnis Anda? Hubungi tim kami hari ini untuk konsultasi gratis secara langsung.

DTrustYour TRUSTed Cloud Security Partner.

Share this article
Shareable URL
Prev Post

Dari Prediksi ke Proteksi: Cara Threat Intelligence Melindungi Bisnis Anda

Next Post

Pakai Aplikasi Bajakan? Jangan Kaget Kalau Perangkat Anda Diam-Diam Jadi Botnet

Read next